Page 311 - Introduction to Islam
P. 311

orang-orang beriman, karena watak orang-orang beriman selalu
                                menaati rasul; padahal menurut penilaian mereka rasul itu tidak
                                lebih baik daripada mereka. Memang, secara duniawi para rasul
                                itu pada umumnya dari kalangan manusia yang direndahkan.
                                Nabi kita, misalnya, sejak lahir tidak mempunyai ayah.  Beliau
                                yatim  sejak  lahir.  Ketika  beliau  berusia  enam tahun, ibunya
                                meninggal dunia pula. Kemudian beliau dipelihara   kakeknya
                                yang      berkecukupan,      tetapi      hanya  sebentar      karena
                                kakeknya   pun   meninggal   pula.   Beliau akhirnya dipelihara
                                oleh pamannya (Abu Thalib) yang miskin dan mempunyai anak
                                banyak.  Oleh  karena  itu,  beliau  sejak  kecil  sudah  bekerja
                                mencari nafkah sebagai pengembala kambing  di  gurun  pasir
                                (jauh  dari  keramaian).  Beliau  tidak seperti kebanyakan anak-
                                anak dan para pemuda yang bersekolah, beliau terus-menerus
                                mengembala kambing di gurun  pasir  itu.  Wajar  saja,  beliau
                                buta  huruf  karena  tidak pernah bersekolah. Setelah berusia
                                40 tahun, beliau berdakwah mengajak manusia untuk memeluk
                                agama Islam. Orang-orang pun, terutama yang berkedudukan
                                dan   berpendidikan   tinggi,   mencemooh.   Di   manakah
                                Muhammad sekolah?

                                 Akan  tetapi,  ketika  dakwah  nabi  diterima  oleh  banyak
                            kalangan, kaum elit dan yang berpendidikan kemudian bergabung
                            dengan  nabi.  Namun,  tujuan  mereka  adalah  mencari  pengaruh
                            dan  kedudukan  terhormat  di  kalangan  orang-orang  Islam.  Di
                            kalangan   manusia   mereka   adalah:   (1)   orang-orang   yang
                            beragama  Islam,  dan  (2)  orang-orang  yang  berkedudukan
                            terhormat.  Strategi  keislaman  mereka,  dengan  bantuan  iblis  dan
                            setan, menjadi sangat efektif untuk mengalihkan keimanan orang-
                            orang  mukmin  (yang   telah  ditanamkan  oleh   nabi)  ke  arah
                            keimanan  menurut  persepsi  mereka,  yang  di  sisi  Tuhan  sebagai
                            kekafiran.  Inilah  karakter  utama  orang-orang  munafik,  secara
                            syariat  mereka  beragama  Islam,  tetapi  dalam  hatinya  tersimpan
                            kekafiran.
                                 Orang-orang munafik mengecap orang-orang mukmin sebagai
                            orang-orang  bodoh  (karena  mau  berguru  kepada  seorang  nabi
                            yang  tidak  lebih  baik  dari  mereka,  bahkan  nabi  itu  tidak pernah
                            bersekolah dan buta huruf). Inilah yang terjadi sepanjang sejarah.
                            Para nabi dan para rasul selalu diolok-olok dan didustakan, bahkan
                            tidak  segan-segan  diusir  dan  dibunuh  oleh  umatnya.  Di  sinilah
                            lihainya  iblis  yang  bekerja  sama  dengan  nafsu  dan  watak  „aku‟
                            manusia. Ingat, musuh bebuyutan iblis bukan Tuhan, bukan Allah,
                            melainkan  Nabi  Adam  a.s.  (sebagai  khalīfah  fil  ardhi,  yakni
                            sebagai  nabi-Nya  /  rasul-Nya).  Oleh  karena  itu,





                                                     298
   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316