Page 316 - Introduction to Islam
P. 316
dipergunakan di jalan Tuhan, bukannya untuk besenang-senang
memperturutkan nafsu dan syahwat; (4) menjadikan Al-Quran sebagai
pedoman hidup (untuk berjalan di atas shirāthal mustaqīm) dan sebagai
pedoman mati, agar ketika mengalami kematian – yang hanya satu
kali terjadi – dapat mati dengan selamat (ḫusnul khātimah) dan
terhindar dari mati sesat (su`ul khātimah); dan (5) mempersiapkan bekal
yang maksimal untuk memasuki hari akhir, sebagaimana bekal yang
dipersiapkan oleh para nabi dan para wali kekasih Allah. Bekal yang
dimaksud terutama: (a) iman yang benar dan kokoh, (b) ibadah yang
benar, ikhlas, dan sungguh-sungguh, serta bebas dari watak sombong
(takabbur), bangga diri („ujub), riya` (derajatnya ingin diakui orang), dan
sum’ah (amal-amal baiknya ingin terdengar oleh orang), (c) amal saleh
yang mencapai tingkat ihsan, dan (d) selalu berusaha memerangi nafsu
dan watak „aku‟nya (melakukan jihād akbar) sampai nafsu dan watak
„aku‟nya benar-benar dikalahkan, yakni dengan selalu menaati Allah,
rasul-Nya, dan ulil amri minkum (QS An-Nisa/4:
59).
Seiring dengan perkembangan zaman dan suasana akademik
kampus PT, masjid kampus perlu menyusun beragam program kerja.
Ciri kecendekiaan masjid kampus harus menonjol, tentunya harus
dengan basis ketakwaan. Masjid kampus perlu mengembangkan
program pengkajian keagamaan yang fundamental (lebih
memprioritaskan kajian dasar-dasar agama) secara kritis, terbuka, luas,
mendalam, dan membangun ukhuwah islamiah. Namun, ciri khas
masjid harus tetap dipertahankan dan dibina. Salat lima waktu, salat
Jumat, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadi ciri masjid.
Semangat beribadah perlu diarahkan untuk meningkatkan ketakwaan;
dan dihindari – meminjam istilah Imam Ghazali – semangat beribadah
yang palsu; yakni perasaan beribadah padahal ibadahnya tidak
sejalan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya. Akibatnya ibadahnya
ditolak oleh Allah.
F. Rangkuman tentang Bagaimana Membangun Budaya
Islam Melalui Masjid Kampus
Dua masjid pada zaman Nabi Muhammad, yakni Masjid Quba`
dan masjid dhirār memiliki konsep dan fungsi yang berbeda. Coba Anda
tuliskan perbedaan kedua masjid ini dalam tabel berikut.
Komponen Masjid Quba` Masjid Dhirār
1. Pendiri
2. Asas
3. Tujuan
4. Program kerja
303

