Page 313 - Introduction to Islam
P. 313

Wa  aqimish  shalāta  li  dzikrī.  Artinya,  ‟Dan dirikanlah  salat  untuk
                           mengingat  Aku  (Aku=Tuhan),‟  agar  terhindari  dari  salat  „sāhun’
                           yang diancam dengan neraka (QS Al-Ma`un/107: 4-5).   Salat yang
                           khusyuk dan sesuai dengan tujuan salat (mengingat Tuhan), maka
                           salat itu mempunyai dampak yaitu dapat mencegah perbuatan keji
                           dan  mungkar  (QS  Al-Ankabut/29:  45,  Innash  shalāta  tanhā  ’anil
                           fakhsyā`i  wal  munkar.  Artinya,  „Sesungguhnya  salat  dapat
                           mencegah perbuatan keji dan munkar‟).
                        3. Selalu  membayar  infak.  Harta  kekayaan  yang  diperoleh  dari  kerja
                           keras  (apalagi  dari  kerja  santai)  tidak  diakui  sebagai  miliknya,
                           melainkan  milik  Tuhan  yang  dititipkan  kepadanya.  Dalam  QS  Al-
                           Baqarah/2:  284,  Lillāhi  mā  fis  samāwāti  wal  ardhi.  Artinya,  „Milik
                           Allah-lah  segala  yang  ada  di  langit  dan  di  bumi.‟  Harta  benda,
                           bahkan diri kita adalah milik Allah. Oleh karena itu, bagi orang- orang
                           yang bertakwa, memberikan zakat, infak, dan sedekah dan ibadah-
                           ibadah harta lainnya sangat mudah dilakukan.
                        4. Selalu   beriman   kepada   kitab   yang   diturunkan   kepada   Nabi
                           Muhammad  dan  beriman  kepada  kitab-kitab  yang  diturunkan
                           sebelum Nabi Muhammad. Implementasi cara mengimani kitab- kitab
                           Allah  adalah  menjadikan  Al-Quran  sebagai  pedoman  hidup dan
                           pedoman mati. Al-Quran dijadikan pedoman hidup dalam menjalani
                           shirāthal mustaqīm, juga dijadikan pedoman mati agar ketika kita mati
                           – yang hanya satu kali terjadi – dapat mati dengan selamat (ḫusnul
                           khātimah). Jadi, pada orang-orang yang bertakwa ada tekad untuk
                           menjalankan  segala  perintah  Allah  dalam  Al-Quran  dan  menjauhi
                           segala  larangan-Nya,  termasuk  menaati  rasul-Nya  dan    ulil    amri
                           yang  menjalankan  misi  rasul-Nya,  sesuai  perintah Allah dalam QS
                           An-Nisa/4:  59,  Athī’ullāha  wa  athī’ur  rasūla  wa  ulil  amri  minkum.
                           Artinya,  „Taatilah Allah,  taatilah  rasul,  dan  (taatilah) ulil amri’ yang
                           menjalankan dan melanjutkan misi rasul. Mungkin yang dimaksud ulil
                           amri dalam ayat ini adalah ulama pewaris nabi, sesuai sabda Nabi
                           Muhammad  saw,  “Al-’Ulama`u  hum  waratsatul  anbiyā`i.  Artinya,
                           „Ulama adalah pewaris nabi‟ (HR Bukhari).
                        5. Selalu  yakin  dengan  hari  akhir.  Kata  “yakin”  mengisyaratkan  telah
                           dipersiapkannya segala bekal untuk menghadapi hari akhir. Orang
                           yang bertakwa itu selalu menyiapkan bekal untuk menghadapi hari
                           akhir  berupa:  (a)  keimanan  yang  benar  (karena  berdasarkan  QS
                           Saba`/34:  51-54  kebanyakan  manusia  imannya  keliru)  dan  kokoh
                           (karena berdasarkan sabda Nabi Muahmmad, “Al-īmānu yazīdu wa
                           yanqushu.”  Artinya,  „Keimanan  itu  bisa  bertambah  dan  bisa
                           berkurang‟; Oleh karena itu, keimanan harus terus ditingkatkan); (b)
                           ibadah yang benar dan ikhlas (Imam Ghazali mengingatkan jangan
                           sampai  menjalankan  ibadah  yang  palsu)  sehingga  terbebas  dari
                           watak  takabbur  (sombong),  „ujub  (bangga  diri),  riya`  (derajatnya
                           ingin diakui orang lain), dan  sum’ah (perbuatan-perbuatan baiknya
                           ingin    diketahui    oleh   orang   lain).   Sabda    Nabi    Muahmmad,


                                                     300
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318